Home | Tourism Object | Directory
Selasa, 21 November 2017  

Seni Tempa Pamor: Mengubah Besi Menjadi Keris

Sebelum Batik dikukuhkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda oleh United Nations Educational, Scientifics, and Cultural Organization (UNESCO) pada 2 Oktober 2009, keris telah terlebih dulu mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai  karya agung warisan kemanusiaan.  Pengakuan tersebut dilakukan UNESCO pada 25 November 2005. Namun, meski keris sudah lebih dulu mendapatkan pengakuan dunia, masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengetahui tentang seluk beluk proses pembuatan senjata tradisional tersebut. Hal ini wajar,  mengingat semakin sedikitnya orang yang memiliki keahlian dalam seni pembuatan keris atau yang juga disebut dengan istilah seni tempa pamor.

Mengapa disebut sebagai seni tempa pamor? Sebab bagian paling sulit dalam proses pembuatan keris adalah membentuk pamor hingga sesuai dengan yang diinginkan. Pamor merupakan lukisan atau motif yang terdapat pada bilah keris dan terbuat dari baja putih, nikel, atau batu meteor. Untuk membuat motif pamor ini diperlukan keahlian tersendiri, dan tidak semua orang mampu membuatnya. Semakin unik dan rumit motif pamor tersebut, biasanya harga keris akan semakin mahal. Oleh karena itu, seni membuat keris dikenal dengan nama seni tempa pamor.

Tidak semua pembuat keris mampu menghasilkan pamor yang sempurna, hanya empu yang telah terlatih dan memiliki bakat saja yang mampu melakukan itu. Salah satunya adalah Ki Sungkowo Harum Brojo, seorang empu keris dari Dusun Gatak. Sebagai putra dari empu ternama, Ki Djeno Harum Brojo, dan keturunan ke-17 Empu Supo dari Mataram, Ki Sungkowo memiliki keahlian membuat pamor yang cukup mumpuni, sehingga keris buatannya banyak dipesan oleh kolektor, bakul (penjual keris), bupati, rektor, para pejabat di pemerintah pusat, hingga duta besar. Pembeli keris Empu Sungkowo tidak hanya berasal dari dalam negeri saja, beberapa pembeli dari luar negeri (Prancis, Polandia, Belanda, Slovakia, Singapura, Malaysia) juga kerap mencari keris buatannya.

Sebagai seorang Empu yang masih mempertahankan cara-cara tradisional dan laku tirakat dalam setiap proses pembuatan kerisnya, Ki Sungkowo memiliki hari-hari khusus di mana dia harus melakukan puasa. Selain puasa, ada juga hari-hari tertentu dimana dia tidak bekerja. Hari-hari yang menjadi pantangan tersebut antara lain hari Selasa Pahing, Rabu Wage, Kamis Pahing, Kamis Wage, Dan Rabu Legi (kalender Jawa). Ki Sungkowo percaya jika pada hari-hari tersebut dia tetap bekerja membuat keris, maka kemungkinan besar akan ada musibah yang menimpa diri dan keluarganya.

Tak hanya mempertahankan laku tirakat, Empu Sungkowo juga masih menggunakan alat-alat tradisional dalam membuat keris. Di besalen-nya (studio pembuatan keris) tergantung berbagai peralatan seperti supit, ploncon, ganden, mimbal, kikir, dan lainnya. Sedangkan di salah satu sisi terdapat prapen (perapian), ububan (sejenis pompa untuk mempertahankan bara tetap menyala),  paron (alas untuk menempa batangan besi panas), kowen (tempat untuk mendinginkan alat-alat), serta sekarung arang yang terbuat dari kayu jati.

Proses pembuatan sebuah keris akan memakan waktu setidaknya 40 hari atau bahkan lebih dari itu. Ada begitu banyak proses yang harus dilewati untuk bisa mengubah batangan besi menjadi sebuah keris yang indah dengan pamor yang rumit. Langkah awal yang dilakukan empu dalam mebuat keris adalah menyiapkan bahan baku berupa lempengan besi, nikel, dan baja. Ketiga komponen tersebut disatukan dengan jalan ditempa dan dibakar. Proses penempaan dan pembakaran ini dilakukan secara berulang-ulang dan berhati-hati supaya pamor yang dikehendaki tercipta. Percikan api akan memenuhi besalen ketika panjak menempa besi membara yang dipegang oleh Empu. Proses penempaan ini biasanya akan menjadi momen incaran fotografer dalam mengambil gambar.

Langkah selanjutnya adalah pembuatan luk atau bengkokan dalam keris. Jika yang akan dibuat adalah keris lurus, maka proses ini bisa langsung dilewati. Namun, jika pemesan menginginkan keris dengan jumlah luk tertentu maka langkah inilah yang dilakukan. Lagi-lagi bilah keris tersebut juga akan dibakar dan ditempa. Jumlah luk sendiri biasanya ganjil, yakni luk 3, 5, 7,9, dan 13. Setelah luk selesai dibuat, selanjutnya adalah proses pengikiran.

Pada tahap akhir, bilah keris yang sudah jadi akan disepuh supaya kuat, awet dan bagus. Keris ini akan dipanaskan namun tidak sampai membara, kemudian dicelupkan ke dalam ember yang berisi air kelapa atau cairan campuran sulfur, perasan jeruk dan garam. Setelah itu barulah keris diberi ukiran (pegangan), mendhak (cincin), warongko (sarung kayu yang membungkis bilah keris), dan pendhok (pembungkus warongko yang terbuat dari logam atau metal yang diukir). Harga keris yang dipatok oleh Empu Sungkowo bervariasi, mulai dari 8 hingga 15 juta. Harga ini tergantung dari tingkat kesulitan pembuatan pamor serta rangka keris yang dipilih oleh pemesan. Namun, harga untuk pembeli dari luar negeri biasanya dipatok lebih tinggi bila dibanding dengan pembeli dari dalam negeri.

Masing-masing keris yang dibuat oleh Empu Sungkowo memiliki sertifikat guna menghindari pemalsuan. Sertifikat ini berisikan identitas keris seperti bahan utama yang digunakan, jumlah luk, motif pamor, dan jenis warongko. Tak lupa juga disertakan cara perawatan keris, yakni setiap 6 bulan sekali keris harus dikeluarkan dari warongkonya, kemudian dioles menggunakan minyak cendana, minyak mawar, dan minyak kenanga.

Bagi Anda yang tertarik untuk melihat proses pembuatan keris, Jogjatrip.com merekomendasikan besalen Empu Sungkowo yang berlokasi di Dusun Gatak, Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Sleman, untuk Anda kunjungi. Di studio sederhana ini, Anda dapat menyaksikan proses penempaan batangan besi yang dilakukan oleh Empu Sungkowo dengan dibantu 2 panjak (asisten). Di tempat ini Anda tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang seluk beluk keris saja, melainkan juga dapat memperoleh obyek foto yang sangat unik dan menarik. Jadi jika Anda penasaran dan tertarik, silahkan bergegas!


Teks: Elisabeth Murni
Foto: Koleksi Jogjatrip.com || Fotografer: Elisabeth Murni & Adi Tri Pramono

More Recomended

Top of Page | Desktop Version
Home | About Us | Contact Us
© 2010-2017 Jogjatrip All rights reserved