Home | Tourism Object | Directory
Sabtu, 23 September 2017  

‘Panca Budaya’ Meriahkan Pembukaan PKB

Yogyakarta, Jogjatrip.com – Paguyuban Wayang Orang Panca Budaya DIY dipercaya untuk memeriahkan pembukaan Pekan Kebudayaan Bali (PKB) Ke 37 tahun 2015 di Denpasar Art Center, Senin (15/6). Panca Budaya yang didukung oleh Dinas Kebudayaan DIY ini, akan mengambil lakon ‘Karma Pala’. PKB Ke 37 bertema ‘Jagaddhita Memperkokoh Kesejahteraan Masyarakat’. “Pentas yang sebenarnya berdurasi 2,5 jam itu harus diringkas menjadi satu jam,” kata Widodo Kustantyo, penata tari yang ditemui Jogjatrip ketika latihan di SMKI, Rabu (10/6) sore.

Menurut Agus Setiawan, Pimpinan Panca Budaya, tampilnya wayang orang dari DIY untuk pembukaan PKB merupakan sebuah kehormatan. “Kami yang biasa pentas keliling ke pelosok desa DIY,  kini tampil diperhelatan besar, “ kata Agus.

Rombongan tim Panca Budaya yang terdiri 70 orang ini akan berangkat pada Sabtu (13/6) pagi dari Dinas Kebudayaan DIY dengan menggunakan dua bus, dan pulang pada Selasa (16/6). Untuk mengiringi wayang orang itu seperangkat gamelan harus dibawa dari Yogya dan dibawa dengan bus bersama para pemain. Para pemain yang terlibat antara lain Widodo Kustantyo, Widodo PB, Slamet, Pulung Jati, Nanang Tegolelana, Teofani, Paryati, Dewo Dewi, Barbara, Lestari, Hartatik, Rahmad Santosa, Yoyok, Rini Widyastuti, Sukadi dan Samiaji. Penulis lakon dan sutradara Tukiran, dan penata karawitan Eko Purnomo.

Cerita ‘Karma Pala’ pernah dipentaskan Panca Budaya di Balai Desa Ngawu, Playen, Gunung Kidul pada September 2014. Cerita ini merupakan perebutan cupu manik Astogino oleh Anjani, Guwarso dan Guwarsi. Dari cupu manik ini ketiga wajah mereka menjadi kera. Oleh Batara Narodo, Guwarsi dan Guwarso diminta untuk bertapa dan beralih nama Sugriwo dan Subali, yang kemudian melawan Lembusuro dan Maesosuro.

Untuk pentas di Bali ada perubahan terutama durasi dan dialog. Durasi hanya 60 menit dan menggunakan dialog bahasa Indonesia yang dilakukan oleh dua dalang yakni Ki Agus Hadi Sugito dan Ki Gondosuharno. Dua dalang ini yang bertutur dengan suara para tokoh wayang. Tapi untuk tembang tetap menggunakan bahasa Jawa. “Kalau pemain yang berdialog akan menambah durasi, maka cukup diwakili dua dalang,” kata Tukiran.

Ketika latihan di SMKI, banyak adegan tari yang ditampilkan bahkan belum pernah dilakukan oleh para pemain Panca Budaya sendiri. “Penampilan tari Panca Budaya ke Bali ini harus memberi makna ,  penuh inovasi dan kreatif. Dan itu akan jadi tontonan yang baik,” ujar Widodo Kustantyo. *** (Teguh R Asmara)

More News

Top of Page | Desktop Version
Home | About Us | Contact Us
© 2010-2017 Jogjatrip All rights reserved